Nasib Lagu Disko Lawas di Bawah Manuver Diskoria Selekta

Lagu disko pada era 70 hingga 80an merayapi masa-masa kejayaan. Beberapa musisi terkenal yang mempopulerkan lagu disko sebut saja Fariz RM, Chrisye, Imaniar, dan masih banyak lainnya. Sebagai pentolan musisi disko terkenal, Fariz RM merangkul duo DJ kondang bernama Aat dan Merdi yang akrab sebagai kolektor lagu lawas Indonesia.

Fariz RM
Fariz RM

Konsepnya sudah jelas. Ketiga member Diskoria Selekta tersebut menggarap lagu disko lawas menjadi lebih baru. Tentu saja dengan sentuhan disko terkini seperti adanya tambahan musik elektronik yang digemari oleh kaum muda. Target pendengar lagu-lagu Diskoria Selekta berada pada kisaran umur 15-25 tahun.

Kendati sudah berusia tak muda lagi, semangat juang Fariz RM tidak kendur atau keriput sama sekali. Saat membawakan lagu-lagunya dengan tampilan yang lebih baru di panggung-panggung, ia tidak tampak keletihan. Para audiensi juga sangat menikmati lagu yang dibawakan.

Lebih mengejutkan, justru lagu-lagu yang populer seperti “Sakura” dan “Barcelona” masih kalah populer dengan lagu lainnya. Semua lagu karya Diskoria Selekta merupakan hasil daur-ulang atau remake. Toh, ketika sudah diluncurkan, para pendengar tidak akan mudah mengenali kalau lagu-lagu tersebut berasal dari puluhan tahun ke belakang.

Tantangan terbesar mereka adalah bagaimana caranya agar pendengar tidak bosan dengan lagu lawas yang di-remake. Konsep serupa sering diupayakan oleh banyak musisi di Indonesia, bahkan dunia. Namun kebanyakan menemukan kegagalan karena tidak berhasil tampil sebagai lagu yang betul-betul baru.

Terlebih lagi kalau yang di-remake adalah lagu-lagu yang telanjur melegenda. Kesan kuatnya legendaris itu baru bisa dipatahkan kalau hasilnya 100% beda atau dengan ketentuan jauh lebih bagus dari lagu aslinya. Pada tahap ini, Diskoria Selekta telah berhasil melewatinya dengan kemampuan yang bikin lagu lawas tampil sebagai pribadi yang betul-betul baru.

Nama Aat dan Merdi sebagai duo DJ keren Indonesia tentu bukan musisi kemarin sore. Bukan yang mendadak tenar gara-gara satu atau dua karya kemudian tenggelam. Bukan. Mereka sudah dikenal oleh publik sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka selalu mencari cara agar pendengar musik Indonesia selalu tertarik dengan lagu Indonesia.

Pasalnya, sejak arus informasi dan teknologi menyebar ke dunia, penikmat musik Indonesia cenderung menengok ke luar negeri hanya untuk menunjuk musik yang referensif. Seharusnya Indonesia memiliki jati diri musiknya sendiri. Kendatipun musik disko terinspirasi dari musik luar negeri.

Dengan kembalinya disko Tanah Air bersama Diskoria, diharapkan menjadi pelecut semangat para pegiat musik di genre yang sama. Setidaknya, dengan menjaga popularitas musik disko Tanah Air, hal itu menjadi sinyal kalau musik disko Indonesia belum mati.

Ide awal Diskoria me-remake lagu lawas terinspirasi oleh musisi asal Thailand. Musisi asal Negeri Gajah Putih itu nyatanya berhasil membawa musik tradisional khas Thailand sampai ke Benua Biru. Inspirasi lain juga datang dari musisi Turki yang memainkan peranan sama, yakni me-remake lagu lawas.

Keinginan Diskoria Selekta sederhana. Musik disko yang telah melegenda di Indonesia jangan sampai dibiarkan tenggelam di tanah sendiri. Selagi masih terdapat potensi untuk digali lebih dalam, bukan tidak mungkin bisa menjadikannya barang tambang layaknya emas, intan, dan berlian. Dunia akan silau dengan cahayanya.

Dengan kesamaan visi dan misi, punggawa Diskoria Selekta optimis mampu membawa cita-cita mereka ke kasta tertinggi di dunia. Barangkali bisa bersanding dengan musik disko karya musisi legendaris dunia. Hidup matinya musik Indonesia tergantung antusiasnya pendengar dan kesadaran masyarakat Indonesia akan potensi terpendam musisi Tanah Air.

Related Posts

Nasib Lagu Disko Lawas di Bawah Manuver Diskoria Selekta
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Untuk mendapatkan Artikel terbaru, masukkan alamat Email Anda di sini