Penting! Surat Ini Harus Anda Miliki Saat Membeli Rumah

Rumah merupakan surga dunia bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, Anda lelah seharian bekerja, belajar, dan melakukan banyak aktivitas di luar rumah, kemudian fasilitas rumah mampu menghilangkan rasa lelah tersebut. Laman http://www.rumah.com/panduan-dan-referensi/membeli-rumah/segala-hal-yang-harus-anda-ketahui-seputar-kredit-pemilikan-rumah membantu Anda mengetahui banyak hal seputar KPR.

Pentingnya keberadaan rumah bagi setiap orang ini tentu membuat banyak orang tidak ingin memiliki masalah terkait kepemilikannya. Oleh karena itu, Anda, yang juga memiliki atau hendak memiliki rumah, pastikan kelengkapannya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Apa saja surat-suratnya? Berikut penjelasan sertifikat properti berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria.

Membeli Rumah

1. Sertifikat Hak Milik (SHM)

Sertifikat ini menunjukkan kepemilikan hak penuh Anda terhadao lahan atau tanah oleh pemegang sertifikat tersebut. SHM ini juga menjadi bukti kepemilikan paling kuat atas lahan atau tanah yang bersangkutan karena tidak ada lagi campur tangan atau pun kemungkinan kepemilikan oleh pihak lain. Jadi Anda bebas menempati rumah yang dibangun di atasnya.

Sifat hak milik ini sendiri adalah hak yang bersifat turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dimiliki orang atas tanah di mana tanah tersebut masih memiliki fungsi sosial. Hak milik dapat diperjualbelikan dan dijadikan jaminan atau agunan atas utang dan apabila sudah diadministrasikan dengan baik, maka Anda sebagai pemilik tanah mendapatkan bukti kepemilikannya yang berupa SHM.

Status Hak Milik ini tidak terbatas waktunya, berbeda dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang akan dibahas setelah ini. SHM dapat Anda manfaatkan sebagai alat yang kuat untuk transaksi jual beli, penjaminan kredit, atau pembiayaan perbankan. Namun sayangnya, SHM hanya diperuntukkan bagi Warga Negara Indonesia (WNI).

Sedangkan untuk pembelian rumah secara kredit, sertifikatnya seringkali masih dipegang pihak kedua seperti penjual, developer, atau notaris. Informasi tentang seluk beluk KPR ini dapat Anda peroleh dari laman http://www.rumah.com/panduan-dan-referensi/membeli-rumah/segala-hal-yang-harus-anda-ketahui-seputar-kredit-pemilikan-rumah.

Laman tersebut menginformasikan tentang keunggulan membeli rumah dengan KPR, persyaratan mengajukan KPR rumah, mengajukan kredit perumahan untuk pasangan suami istri, beberapa tips memilih lembaga perbankan yang kredibel, membandingkan produk KPR antar bank, kiat sukses agar KPR disetujui, dan hal yang harus lakukan setelah KPR disetujui.

Selain itu, pertanyaan penting ketika wawancara KPR, tips agar KPR lancar, KPR subsidi, solusi pemilikan rumah murah, mengenal KPR syariah dan perbedaannya dengan KPR konvensional, membeli rumah secara take over kredit, pembelian KPR BTN, dan lainnya juag dibahas tuntas dan detail di dalamnya.

2. Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)

Sertifikat yang kedua yaitu SHGB, yang membuat pemegangnya hanya dapat memanfaatkan lahan tersebut untuk mendirikan bangunan atau keperluan lain dalam kurun waktu tertentu, sedangkan kepemilikan lahannya tetap dipegang oleh negara. Sertifikat ini memiliki batas waktu tertentu, umumnya 20-30 tahun, dan dapat diperpanjang. Setelah melewati batas waktu yang telah ditentukan, Anda harus mengurus legalitas perpanjangan SHGB tersebut.

Hak Guna dalam sertifikat ini berarti hak atas pemanfaatan atas tanah atau bangunan, seperti mendirikan dan mempunyai bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri dalam jangka waktu tertentu. Sertifikat ini juga dapat diperpanjang jangka waktunya dan dapat pula digunakan sebagai tanggungan atau dialihkan. Pemegang Hak Guna ini harus memberikan pemasukan ke kas negara berkaitan dengan Hak Guna ini.

Jika Hak Guna sudah diadministrasikan, maka pemegang hak mendapatkan bukti kepemilikan berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Lahan dengan status Hak Guna Bangunan (HGB) diperbolehkan untuk dimiliki Warga Negara Asing (WNA) dan biasanya berupa lahan yang dikelola oleh pihak developer seperti perumahan atau apartemen, dan terkadang untuk gedung perkantoran juga.

Jika Anda hendak membeli rumah berikut tanah dijual, pastikan status sertifikatnya. Jika masih SHGB dan belum naik menjadi SHM, maka Anda tidak memiliki kuasa atas tanah tersebut dan tidak dapat mewariskannya kepada keturunan Anda. Namun umumnya SHGB ini tetap dapat dijadikan agunan untuk mengajukan pinjaman ke bank.

Cara meningkatkan status kepemilikan rumah Anda dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik yaitu dengan mengurusnya sendiri di kantor pertanahan atau BPN di wilayah tempat tanah tersebut berada. Anda juga dapat menggunakan jasa notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang akan menguruskan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN).

3. Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun (SHSRS)

Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun ini berkaitan erat dengan kepemilikan seseorang atas rumah vertikal atau rumah susun (rusunami) yang dibangun di atas tanah dengan kepemilikan bersama. Pemilik tanah biasanya pemerintah atau pemda terkait atau bisa juga masih menjadi hak developer.

Adanya pengaturan kepemilikan bersama dalam rusunami ini digunakan untuk memberi dasar kedudukan atau status atas benda tak bergerak yang menjadi objek kepemilikan di luar unit, seperti taman, lahan parker, laahn terbuka hijau, dan lainnya.

4. Girik

Surat ini sebenarnya kurang tepat disebut sertifikat karena bukan sertifikat kepemilikan atas tanah melainkan salah satu jenis administrasi desa untuk pertanahan yang menunjukkan penguasaan atas lahan untuk keperluan pengaturan perpajakan (PBB).

Umumnya dalam girik tertera nomor, luas tanah, dan pemilik hak karena jual beli maupun ahli waris. Keberadaan surat ini harus didukung dengan bukti lain seperti Akta Jual Beli atau Surat Waris. Jika surat atau sertifikat yang Anda pegang saat ini adalah girik, maka segera urus sertifikat hak milik Anda.

5. Akta Jual Beli (AJB)

Sama halnya dengan girik, AJB bukan sertifikat melainkan perjanjian jual beli dan merupakan salah satu bukti pengalihan hak atas tanah setelah proses jual beli. AJB ini dapat Anda peroleh dalam berbagai bentuk kepemilikan tanah, seperti Hak Milik, Hak Guna Bangunan, atau Girik.

Setiap proses jual beli rumah umumnya mengharuskan keikutsertakan sertifikat ini. Namun Anda perlu berhati-hati dengan AJB, karena kepemilikannya sangat rentan mengundang terjadinya penipuan, seperti kasus AJB ganda. Segera konversikan AJB Anda ke SHM di Kantor Pertanahan.

Sudah jelas bukan surat-surat rumah apa saja yang harus Anda miliki? Jika Anda terlanjur membeli rumah siap huni atau membangun sendiri dari tanah kosong yang dibeli dari perantara yang menginformasikan tanah dijual dan masih ada yang belum lengkap, segera urus surat-surat yang tersisa. Selamat berusaha!

Related Posts

Penting! Surat Ini Harus Anda Miliki Saat Membeli Rumah
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Untuk mendapatkan Artikel terbaru, masukkan alamat Email Anda di sini